Longki Djanggola, Pribadi Guru Tua SIS Al Jufri Yang Cinta Ilmu Dan Toleran

Laporan Moh. Nasir Tula
02 Juli 2018
beritasulteng,Palu – Peringatan wafat (Haul) ke 50 Sayyid Idrus Bin Salim Al Jufri adalah sebuah bentuk penghormatan   sekaligus mengenal sejarah perjuangan beliau. Juga yang terpenting momentum tersebut oleh para Abnaul Khairaat dan seluruh masyarakat dapat memetik hikmah dan suri teladan dari pribadi SIS Al Jufri. Yang karena perjuangannya dalam mencerdaskan umat, diabadikan menjadi nama bandar udara Mutiara SIS Al Jufri Palu.
Hal itu dikatakan oleh gubernur Sulawesi Tengah Drs. H Longki Djanggola, M. Si ketika meberikan sambutan pada puncak peringatan Haul ke 50 SIS Al Jufri Sabtu (30/8/2018) di komplek perguruan Al Khairaat yang sebelumnya dibacakan Tahlil dan Manaqib SIS Al Jufri. “Peringatan ini untuk menghormati, mengenang dan berusaha mencontohi keteladanan yang telah diwariskan guru tua kepada keturunannya, murid-muridnya. Juga kepada seluruh Abnaul Khairat yang tersebar di muka bumi ini. Haul bukan hanya tradisi keagamaan saja, selain dakwah Haul memberi kesempatan bertemunya ulama, umara dan umat islam dalam silaturrahim yang di dalamnya juga banyak petinggi bangsa ini”, katanya.
Gubernur Longki meminta agar seluruh elemen masayarakat dapat mentransformasikan di kehidupan sehari-hari, dari nilai-nilai luhur yang ada dalam diri SIS Al Jufri. Lanjutnya, dari sekian banyak nilai tersebut, salah satu yang perlu diterapkan adalah menghargai perbedaan. Dimana perbedaan adalah sebuah keniscayaan pada diri bangsa Indonesia.
“Yang sangat luar biasa adalah kesadaran untuk bisa menghargai perbedaan dan  menerima segala perbedaan, dan bukan dijadikan suatu alasan untuk saling merendahkan. Tetapi itu adalah nikmat dari Allah kepada bangsa Indonesia. Yang mesti kita rawat dan jaga serta dijadikan modal untuk mendukung pembangunan Indonesia dan pada khususnya pembangunan Sulawesi Tengah untuk mengakselerasi menjadi daerah yang maju, mandiri dan berdaya saing.
Pada Haul tersebut hadir Kepala Kepolisian Republik Indonesia Prof. H Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Dai sekaligus Politisi Golkar Dr. Ali Mochtar Ngabalin, Ketua Yayasan Al Khairaat sekaligus mantan menteri kelautan dan perikanan republik Indonesia Prof. Fadel Mohammad. KH. Ubaydillah Hamdani, Habib Sayyid Ridho Assegaf Pimpinan Pondok Pesantren Darul Habib Sukabumi, Ust Sofyan Lahilote Manado, Ust Ismed Jailani serta Para Habaib dan Alim Ulama, dan jamaah Al Khairat dari seluruh Indonesia yang menurut perkiraan sekretaris pelaksana Haul Ust Suhban Lasawedi tak kurang dari 20 ribu jamaah.
Didalamnya, Kapolri Tito Karnavian mengungkapkan, bahwa keseharian yang ada pada SIS Al Jufri sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini. Adalah toleransi. “Kesadaran bahwa kita lahir dan hidup di Indonesia negara yang kaya akan suku, agama, bahasa, ras dan lain-lain. Harus senantiasa kita gelorakan”, ungkapnya.
Kapolri menambahkan, toleransi sangat dibutuhkan dalam keberagaman masyarakat Indonesia. Menurutnya keberagaman merupakan sebuah potensi yang sangat besar bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik didalamnya terdapat ancaman disintegrasi bangsa yang besar pula. Toleransi menjadi kunci. Seperti firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 13. Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
Panglima TNI pada Haul tersebut menyampaikan salam hangat dari Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo yang dijadwalkan hadir di Palu, tetapi berhalangan. Karena ada kunjungan perdana menteri Malaysia, sehingga ia bersama Kapolri diutus untuk hadir. Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa kiprah SIS Al Jufri sangat membanggakan. Dimana berawal dari sekolah sederhana, kini telah berkembang menjadi ribuan. Hal ini menjadikan pendidikan adalah hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan.
“Pendidikan bagi umat adalah sangat penting. Tidak hanya menghadapi kehidupan dunia, namun juga sebagai bekal di akhirat kelak. Upaya ini oleh Guru Tua dijadikan sebagai sarana jihad. Karena beliau sadar umat islam yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas adalah umat yang sesungguhnya diinginkan oleh Rasulullah SAW. Perjuangan Alhabib hendaknya kita lanjutkan. Tutur Panglima TNI.
Ketua Utama Al Khairaat Habib Sayyid Sagaf Al Jufri membenarkan apa yang dikatakan sebelumnya. Bahwa SIS Al Jufri dalam perjuangannya memiliki misi menyebarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan, oleh karenanya Sayyid Sagaf berpesan kepada seluruh guru-guru yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di berbagai pelosok daerah tidak berkecil hati meskipun dalam keadaan yang bagaimanapun.
Karena Rasulullah SAW, lanjutnya, adalah seorang yang juga berprofesi sebagai pengajar. Rasul diutus untuk memperbaiki akhlaq peradaban umat. Guru didoakan layaknya doa seluruh mahluk yang ada di langit dan di bumi. Peran guru masih sangat dibutuhkan guna kemajuan bangsa. Khususnya umat islam.
“Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikatnya dan seluruh penduduk bumi ini termasuk  ikan-ikan yang ada di laut dan semut-semut yang ada di lubangnya. Semuanya mendoakan kepada orang yang mengajar kebaikan kepada umat manusia pelajaran yang baik. Jadi kita ini mendapat doa dari seluruh makhluk Allah yang di langit maupun di bumi. Ini merupakan suatu keistimewaan. Dan ini juga merupakan tugas (profesi;mengajar) Rasul”, jelasnya.
Dimana menurut Sayyid Sagaf menyadari bahwa umat islam mayoritas dalam kuantitas, akan tetapi minoritas dalam kualitas. Untuk itu pentingnya ilmu bagi umat perlu tersendiri diperjuangkan. Seperti sabda Rasul yang relevansinya masih berlaku hingga sekarang dan nanti. Barang siapa yang menginginkan dunia maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu. Kemudian barang siapa yang menghendaki keduanya, maka harus pula mencapainya dengan ilmu.
Hal lainnya yang dicermati oleh Ketua Utama adalah Nasionalisme dan Toleransi. Baginya nasionalisme SIS Al Jufri yang juga ditanamkan kepada semua muridnya tak perlu diragukan oleh siapapun. Karena dicatat pada peristiwa DI/TII, beliau ketika itu berpesan agar selamat tetap mengikuti Bung Karno (Indonesia) karena beliau percaya para pemimpin tersebut dapat dipercaya karena amanah. Bahkan pada masa sebelumnya, ketika kemerdekaan diproklamirkan Guru Tua menulis syair berikut; Ciptakan kemakmuran lahir dan batin. Dan tunjukkan kepada dunia kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab.
Menutup penjelasannya Habib Sagaf mengatakan bahwa sikap tasamuh (toleransi) yang ada pada diri SIS Al Jufri menjadi kekaguman yang nyata bagi muridnya, karena toleransi tersebut tidak hanya diterapkan kepada sesama umat islam. Tetapi sikap tersebut ia tunjukkan kepada umat agama lain.
Diceritakan oleh Habib Sayyid Muthahhar Al Jufri. Dahulu ketika SIS Al Jufri melakukan perjalanan ke Kulawi pada masa penjajahan Belanda, bertemu dengan para Zending penyebar agama Nashrani. SIS Al Jufri memberikan tumpangan kepada mereka. Sehingga menimbulkan pertanyaan para Zending mengenai apa alasannya memberi tumpangan.  Dijawab oleh Sayyid, bahwa tujuan kita sama. Saya mengajarkan kepada umat saya. Dan anda mengajarkan kepada umat anda. (kiriman humas sulteng)

Leave a Reply

Your email address will not be published.